Senin, 23 Mei 2016

pendahuluan pada masalah pengemis

A.      Latar Belakang

Di era yang sungguh menggiurkan ini banyak tekhnologi, pengetahuan juga lapangan pekerjaan yang semakin mengikuti zaman, namun jika kita memandang dari sisi yang berbeda, kita akan menemui pandangan yang berbeda pula, seiring berbagai perkembangan zaman yang semakin unjuk di era ini, terutama dalam hal lapangan kerja, semakin banyak juga kerancuan demi kerancuan yang kita temukan.
Penggangguran kian merajalela, membuat pemerintah semakin bingung dalam mengatasinya. Berbagai ide yang hadir pada pejabat pengangguran kini kian tersalurkan “mengemis dengan cara yang sangat canggih sehingga membuat yang lain iba melihatnya”. Mengacuhkan hukum dari pekerjaan itu hanya demi mendapatkan uang-uang dari hasil mengemis dari suatu tempat ke tempat lain. Pekerjaan ini sudah lama lahir di negeri kita, hanya saja seiring zaman semakin unjuk sedemikian juga mereka ikut unjuk. Dengan bermodal memamerkan kekurangan nya,bermodal bayi yang terus tidur dalam gendongannya, atau bermodal anak kecil yang berpakaian lusuh, lesu, kotor hanya untuk membuat yang melihatnya iba dan menyisihkan sedikit uang untuk diberikan kepada mereka. Hal ini juga kian merajalela mengiringi merajalelanya pengangguran.
Hal ini sungguh memprihatinkan moral jiwa dan bangsa. Apa yang harus kita lakukan sebagai penonton mereka? Apakah kita harus iba dan menyisihkan mereka uang? Atau apakah kita harus membiarkan dan mengacuhkan pekerjaan mereka? Hal inilah yang melatar belakangi saya dalam menulis tulisan ini yang bertema “pengemis yang semakin unjuk dengan cara mereka, dan bahkan kian mengacuhkan hukum dari pekerjaan itu”. Dalam kasus ini saya telah melakukan observasi terhadap pengemis disekitaran saya, dan mengambil fokus kepada seorang pengemis laki-laki berpeci dengan menggandeng anak umuran 5 tahunan yang berbeda-beda setiap harinya.
Faktor apa yang menggerakkan hati mereka untuk melakukan pekerjaan ini, apakah disebabkan oleh faktor ekonomi atau memang pekerjaan yang telah di turun temurunkan dari keluarganya, hal itu menjadi faktor keingintahuan saya dalam mendalami masalah ini.


B.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pengemis?
2.      Berbagai cara mengemis
3.      Faktor apa yang membuat mereka mengemis

C.    Tujuan Pembahasan
Penulis ingin memaparkan penulisan bertema pada ‘pengemis’.
1.      Agar pembaca dapat memahami dan mengetahui makna dan pengertian dari pengemis.
2.      Penulis menguraikan cara- cara yang di lakukan para pengemis dalam melakuakan pekerjaan mereka pada umumnya, agar pembaca dan memahami dan mengetahui bagaimana cara-cara dan model apa yang digunakan pengemis saat beraksi pada pekerjaannya.
3.      Penulis mengobservasi pada beberapa sampel tentang faktor yang menggerakkan hati si pengemis untuk melakukan pekerjaan ini. Agar pembaca dapat memahami dan mengetahui faktor yang membuat pengemis tergerak hati dalam melakukan pekerjaan tersebut.

D.    Sistematika Penulisan
Pada karya ilmiah yang akan di paparkan oleh penulis memiliki 3 bagian. Pembuka makalah (pendahuluan) yang membahas tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan pembahasan dan sistematika penulisan. Kemudian diikuti dengan isi (pembahasan) yang akan membahas tentang isi pembahasan yang akan di paparkan oleh penulis, dan yang terakhir adaalah penutup yang berisi tentang kesimpulan paparan penulis, dan saran.


pengemis laki-laki berpeci dengan menggandeng anak umuran 5 tahunan yang berbeda-beda.

.
senin, 25 april 2016 lalu seorang laki-laki yang sudah agak tua berkisar 50 tahun umurnya, pakaian yang sudah sangat lusuh masih dikenakannya, saya memperhatikan langkah per langkah si bapak tua ini sambil menunggu jajanan yang sudah saya pesankan selesai. Ia semakin mendekati arah tempat saya berdiri, ia buta, ia tidak melihat jalan yang ia tempuh. Baju batik bercorak bunga berwarrnakan biru dongker dan celana abu-abu lusuh yang panjangnya tidak mencapai matakaki itu melindungi tubuh tua sang bapak. Ia tampak masih kuat jika berkerja, tapi ia lebih memilih untuk beranjak di jalan ini. Mengemis dari jalan ke jalan, dari tempat ke tempat hanya demi mendapat iba dari yang melihatnya dan menyisihkan mereka sedikit uang. Saya kembali memerhatikan si bapak, siapa wajah mungil yang menuntnnya itu?
Wajah itu tampak begitu lusuh, lesu, lemah, kotor, dan mencoba terus menuntun bapak tua ini berjalan. Wajah nya masih begitu polos untuk melakukan hal seperti ini. Ia terlihat lelah, mungkin ia sangat rindu dengan sentuhan kasih sayang. kaos hijau lusuh yang di padukan dengan celana jeans yang tampak sudah tidak layak pakai lagi, dikenakan anak laki-laki mugil polos itu. Mereka tiba di sampingku dan mengemis uang dengan membuat yang lainnya iba, rasa iba yang menghampiri batin saya kini bukan lagi kepada bapak tua itu tapi melainkan kepada anak laki-laki keci yang tampak polos dan lesu itu. Setelah mendapatkan sesisihan uang dari tempat ku berdiri, anak kecil itu dengan tegas dan pasti ia langsung menuntun sang bapak menuju ke tempat lainnya. Pandangan arah mata saya terus saya tujuakan ke arah pengemis tua dan anak laki-laki malang itu. Terakhir aku melihat anak laki-laki itu membeli sebuah minuman di kios persimpangan Pasca Sarjana UIN Ar-raniry. Saya pun mendapatkan jajanan pop ice dan kembali kerumah.
Saya terkejut akhirnya saya bertemu lagi bapak tua yang pernah saya perhatikan dua hari lalu, ia tampil masih dengan perawakan yang sama, dan juga baju yang sama, dengan keadaan lusuh dan kotor. Namun, ada yang aneh dengan sibapak tua itu, ia tidak lagi di tuntun oleh anak laki-laki kecil yang polos kemarin, melainkan seorang anak perempuan kecil yang masih lugu dan tampak tidak memahami apapun, dengan pakaian kaos merah dan celana panjang biru dipadukan dengan jelbab kecil yang berwarna hitam, ia terlihat lemas dan kotor. Ia menuntun sang bapak di dari tko ke toko, saya bertemu dengan mereka tepat di depan swalayan “ Mahli Baru” di daerah Tungkob. Mengapa yang menuntun sang bapak berbeda? Akhir-akhir ini banyak masalah pengemis diangkat menjadi pembicaraan yang hangat di perbincangkan.

Dan untuk ketiga kalinya saya berjumpa pengemis yang sama dengan penuntun yang berbeda pula, seorang anak kecil berambut keriting, dan berperawakan manis, dengan kulit sawo matang. Di daerah sektor timur. Inilah tentang observasi yang saya lakukan terhadap pengemis. Dan berfokus pada fokus kepada seorang pengemis laki-laki berpeci dengan menggandeng anak umuran 5 tahunan yang berbeda-beda setiap harinya.