.
senin, 25 april 2016 lalu seorang laki-laki yang sudah
agak tua berkisar 50 tahun umurnya, pakaian yang sudah sangat lusuh masih
dikenakannya, saya memperhatikan langkah per langkah si bapak tua ini sambil
menunggu jajanan yang sudah saya pesankan selesai. Ia semakin mendekati arah
tempat saya berdiri, ia buta, ia tidak melihat jalan yang ia tempuh. Baju batik
bercorak bunga berwarrnakan biru dongker dan celana abu-abu lusuh yang
panjangnya tidak mencapai matakaki itu melindungi tubuh tua sang bapak. Ia
tampak masih kuat jika berkerja, tapi ia lebih memilih untuk beranjak di jalan
ini. Mengemis dari jalan ke jalan, dari tempat ke tempat hanya demi mendapat
iba dari yang melihatnya dan menyisihkan mereka sedikit uang. Saya kembali
memerhatikan si bapak, siapa wajah mungil yang menuntnnya itu?
Wajah itu tampak begitu lusuh, lesu, lemah, kotor, dan
mencoba terus menuntun bapak tua ini berjalan. Wajah nya masih begitu polos
untuk melakukan hal seperti ini. Ia terlihat lelah, mungkin ia sangat rindu
dengan sentuhan kasih sayang. kaos hijau lusuh yang di padukan dengan celana
jeans yang tampak sudah tidak layak pakai lagi, dikenakan anak laki-laki mugil
polos itu. Mereka tiba di sampingku dan mengemis uang dengan membuat yang
lainnya iba, rasa iba yang menghampiri batin saya kini bukan lagi kepada bapak
tua itu tapi melainkan kepada anak laki-laki keci yang tampak polos dan lesu
itu. Setelah mendapatkan sesisihan uang dari tempat ku berdiri, anak kecil itu
dengan tegas dan pasti ia langsung menuntun sang bapak menuju ke tempat
lainnya. Pandangan arah mata saya terus saya tujuakan ke arah pengemis tua dan
anak laki-laki malang itu. Terakhir aku melihat anak laki-laki itu membeli
sebuah minuman di kios persimpangan Pasca Sarjana UIN Ar-raniry. Saya pun
mendapatkan jajanan pop ice dan kembali kerumah.
Saya terkejut akhirnya saya bertemu lagi bapak tua yang
pernah saya perhatikan dua hari lalu, ia tampil masih dengan perawakan yang
sama, dan juga baju yang sama, dengan keadaan lusuh dan kotor. Namun, ada yang
aneh dengan sibapak tua itu, ia tidak lagi di tuntun oleh anak laki-laki kecil
yang polos kemarin, melainkan seorang anak perempuan kecil yang masih lugu dan tampak
tidak memahami apapun, dengan pakaian kaos merah dan celana panjang biru
dipadukan dengan jelbab kecil yang berwarna hitam, ia terlihat lemas dan kotor.
Ia menuntun sang bapak di dari tko ke toko, saya bertemu dengan mereka tepat di
depan swalayan “ Mahli Baru” di daerah Tungkob. Mengapa yang menuntun sang
bapak berbeda? Akhir-akhir ini banyak masalah pengemis diangkat menjadi
pembicaraan yang hangat di perbincangkan.
Dan untuk ketiga kalinya saya berjumpa pengemis yang sama
dengan penuntun yang berbeda pula, seorang anak kecil berambut keriting, dan
berperawakan manis, dengan kulit sawo matang. Di daerah sektor timur. Inilah
tentang observasi yang saya lakukan terhadap pengemis. Dan berfokus pada fokus
kepada seorang pengemis laki-laki berpeci dengan menggandeng anak umuran 5
tahunan yang berbeda-beda setiap harinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar